KETIKA GENDERANG CINTA BERTABUH

Semilir angin senyapkan kalbu Membelai lembut jiwa di kesunyian malam, Sayup-sayup terdengar suara jangkrik dari pelataran rumah Mengusik jiwa tuk segera beranjak dari selimut mimpi yang melenakan diri.

Mungkin beberapa saat lalu aku terlena dalam buaian mimpi yang setia menemani disetiap malamku, bahkan tak jarang ketika sang bagaskara mulai  beranjak dari peraduannya diriku tetap setia dengan kesemuan mimpi.

Itulah hari-hariku, saat itu rasa angkuh dan ego menguasai relung hati. Perlahan tapi pasti semua itu terkikis semenjak kehadiran sosok yang begitu indah, entah mengapa aku yang selama ini begitu angkuh menjadi luluh seakan tak berdaya dihadapannya.

Setiap saat dia selalu mengetuk relung hati agar diri ini terus berubah. Satu waktu saat kutersadar dari sebuah mimpi, sejenak kuterdiam disudut kamar kecilku, tak terasa butiran air mata menetes di pipi dan nafas tiba-tiba menjadi berat tatkala terdengar ayat-ayat ilahi dari bibir mungil malaikat kecilku.

Ya Allah, tiba-tiba hati  berkecamuk teringat akan dosa-dosa di masa laluku yang begitu kelam. Bergegas kulangkahkan kaki tuk menyucikan diri dan kuhampar sajadah tua peninggalan bunda tuk bersimpuh di keharibaan ilahi.

Bait demi bait kata terucap dzikir teriring jemari yang memutar butiran tasbih semakin kuyakin akan cintaku pada ilahi robbi  bagaikan genderang yang bertabuh merdu.

Ar Rahman, Ar Rahim, Al Malik, Al Quddus,  As Salam, Al Mu’min, Al Muhaimain, Al A’ziiz, Al Jabbar, Al Mutakabbir, indahnya asma-asmamu ya rab, membawa diriku semakin yakin akan cintaku padamu bukanlah fatamorgana di alam fana.

 

Bondowoso,25 Juli 2020

Kurnia Fitriadi




Comments

Popular Posts