SENANDUNG CINTA DIBATAS KOTA
Cinta datang tanpa
diduga, kadang hadir dari pandangan
pertama lalu turun kehati, kadang datang tanpa permisi, dan tak jarang melalui
perantara alias mak comblang. Tapi diantara semua itu ada yang paling klasik
dalam cinta yaitu perjodohan kedua orang tua. Yah memang yang terakhir itu
kurang cocok dengan kaum milenial saat ini, tapi tak dapat dipungkiri itu tak
jarang terjadi, apalagi kalau sudah
mengatasnamakan orang tua, kita dituntut patuh agar tak dikatakan sebagai anak
durhaka. Kalau dipikir ada benarnya, kita berbakti, perkara cinta itu akan tiba
masanya pasti hadir, karena ada yang bilang “ tresno jalanan kulino “.
Itulah sekilas tentang apa itu cinta. Disini
aku menemukan arti cinta yang sebenarnya, dimana cinta bagiku melalui sebuah
proses yang simpel tapi sangat indah tuk dikenang. Tiga tahun kujalani masa
remaja di bangku SMA ada guratan cinta disana namun tak pernah sekalipun
kuberani menggapainya, yah maklum saat itu wajah pas pasan duit tidak ada dan
rasa percaya diri masih 50 persen. Selepas masa putih abu-abu kucoba melihat
dunia di negeri seberang “malaysia”, disini kucoba satukan tekad mencari receh
sekaligus cinta, namun tak seindah yang kubayangkan, rintangan dan tantangan
silih berganti menghadang.
2002 adalah tahun dimana ku dipertemukan
dengan cinta sesungguhnya, dan Kanjuruhan menjadi saksi saat pertama kali ku dipertemuakan
dengan sosok sederhana tak banyak bicara tapi mampu memahat rasa didalam dada.
Awalnya biasa saja, aku yang dasarnya suka usil mencoba mencuri perhatian lewat
gombalan khas anak muda saat itu. Tapi ternyata tak satupun gombalanku
diindahkan. Terlintas akan mundur saat itu, dan seiring berjalannya waktu saat
sang langit menangis tersedu aku begitu bahagia tatkala aku datang kebatas kota
bersama seorang sahabat dan disitu kembali dipertemuakan dengan dia yang selama ini membuat jantung berdegup laksana genderang perang. Pelan tapi
pasti hatinya dapat kusentuh dan kuyakin dapat menggenggam tangannya tuk
berjalan menuju singgasana cinta. 2007 menjadi saksi keagungan cinta bersemi
dibatas kota seakan bersenandung indah iringi langkah suci menuju pelaminan
cinta, disinilah kumulai percaya bahwa cinta itu adalah sebuah proses menuju
kebahagiaan. Dan tanpa cinta apalah arti sebuah hidup karena hidup tanpa cinta
akan hampa terasa.
Bondowoso, 01 Agustus
2020


Comments
Post a Comment